Google
 

Belajar Dari Kesalahan Orang Lain

Salah satu premis buku-buku yang saya tulis adalah bagaimana mempermudah hidup seseorang hanya dengan membaca. Buku-buku how-to, bisnis, dan motivasi yang telah saya terbitkan, semua mempunyai premis yang tidak mengenal batas-batas budaya dan geografis.

Lantas, mengapa membaca? Karena, dengan membaca tulisan-tulisan yang bermuara dari pengalaman pribadi penulisnya, kita bisa mempelajari kesalahan-kesalahan dan kegagalan-kegagalan mereka sehingga kita tidak perlu mengulanginya. Jelasnya, dengan membaca kita diberi kesempatan untuk test drive dengan simulator secara cuma-cuma, tanpa perlu mengalami kepahitan hidup seperti yang mereka alami. Cukup dengan menerima informasi dengan hati terbuka dan pikiran yang siap menyerapnya, kita mestinya sudah bisa belajar dari kesalahan orang lain.


Lantas, apakah hanya dengan membaca? Jelas tidak. Setiap saat indera kita bekerja, kita sedang belajar dari Universitas Kehidupan. Saya dan Anda, kita semua, dalam setiap detik mengalami pembelajaran baik secara sadar maupun tidak sadar. Apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan, adalah materi pembelajaran. Bagaimana kita memulung dan menggunakan hasil pulungan itulah yang menjadi bekal hidup di masa kini dan masa yang akan datang. Istilah memulung dari kehidupan ini saya pinjam dari Bung Andrias Harefa (terima kasih, istilah ini kena sekali).

Saya kenal banyak orang yang mengulangi kesalahan-kesalahan diri sendiri di masa lampau. Apalagi kesalahan-kesalahan orang lain. Padahal, jelas-jelas hal-hal tersebut terjadi di depan matanya sendiri. Misalnya, menurut data statistik, seseorang yang mempunyai masa kecil kelabu—seperti seringnya dipukul oleh orangtua—kemungkinan besar ketika mempunyai anak sendiri pun akan menjadi orangtua yang gemar memukul. Seseorang yang mempunyai orangtua yang kawin cerai, kemungkinan besar akan menjadi seseorang yang gemar kawin cerai pula.

Apalagi ada kata mutiara yang berkata, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Ini jelas merupakan suatu ‘indoktrinasi’ yang terjadi secara tidak disengaja, namun diperkuat oleh kultur yang mengungkung. Saya sendiri seringkali merasa terkungkung oleh nosi yang salah kaprah ini. Bahkan sampai hari ini, kadang-kadang masih timbul suatu keragu-raguan dalam bertindak hanya karena persepsi saya yang salah atas kehidupan dan di mana saya berdiri.

Sering kali, saya merasa ‘tidak berdaya’ karena masa lalu dan kekhawatiran akan masa yang akan datang, yang sesungguhnya hanyalah berasal dari indoktrinasi masa lalu yang salah. (Istilah indoktrinasi di sini saya gunakan dalam konteks yang sangat relaks, yaitu bagaimana suatu proses penempatan konsep diri yang biasanya ‘salah kaprah’ tertanam sedalam-dalamnya sehingga sulit digeser.) Beberapa tahun lalu, saya sangatlah memandang diri sendiri sebagai seseorang dengan latar belakang keluarga yang tidak begitu sempurna serta tidak punya banyak uang, sehingga saya merasa menjadi ‘diri yang cacat’.

Untungnya, dengan tempaan dan mengindoktrinasi diri saya kembali, saya belajar ulang dari kehidupan dan menghapus segala macam informasi yang membuat pikiran saya menjadi ‘cacat’. Ya, bukan saya yang cacat, namun pikiran saya.

Bagaimana saya belajar ulang atas buku kehidupan yang sudah separuh jalan ini (dengan asumi usia normal manusia 70 tahun)? Mudah saja. Refleksi seperlunya dan lakukan secara pragmatis. Jangan libatkan perasaan. Kalau dilibatkan pun, usahakan seminimal mungkin.

Setiap solusi pasti ada pemecahannya yang berasal dari pemikiran jernih saat itu juga. Jelas, pemecahan ini bukan berasal dari pemikiran njelimet tidak karu-karuan. Apalagi kalau dibumbui segala macam nasihat orang lain—yang mungkin pengalaman hidupnya getir dan pahit—sehingga saran-saran mereka malah mengungkung hasil akhir dan bukan memberikan solusi.

Karena itu diperlukan latihan memenggal-menggal permasalahan dan mengkotak-kotakkannya dalam ukuran yang kecil, sehingga bisa dicerna dengan mudah. Pilah-pilahkan masalah besar menjadi beberapa masalah kecil, lantas dengan visualisasi di dalam benak Anda, bayangkan Anda seorang raksasa yang sedang menghantam masalah-masalah kecil tersebut dalam satu kali sapuan bersih.

Pada saat itu juga masalah hendaknya dipecahkan. Jika tidak memungkinkan, tulis tindakan lanjutan yang sebenarnya sudah merupakan pemecahan masalah, namun hanya ditunda sampai waktu dan kesempatan yang tepat. Sesudah itu, jangan dipikir-pikirkan lagi sampai waktunya untuk diangkat kembali.

Kedua: Membandingkan masalah kita dengan masalah orang lain yang serupa. Dari pergaulan sehari-hari dan memperhatikan bagaimana anggota keluarga kita menjalankan kehidupan, kita bisa dengan mudah membandingkan suatu situasi yang kita alami dengan bagaimana cara mereka memecahkan masalah.

Tujuannya bukanlah untuk mengikuti cara mereka dalam memecahkan masalah. Namun, untuk melihat secara obyektif bagaimana suatu pemecahan masalah membawa dampak jangka panjang. Misalnya, seorang ibu yang suka memukul anaknya. Dalam benaknya sudah tertanam anggapan bahwa itulah cara terbaik dalam mendidik anak yang sedang bermasalah atau sedang nakal-nakalnya. Lantas, ketika si anak itu sudah mempunyai anak sendiri, cara itu pula yang ia gunakan untuk mendidik anaknya. Ini cara yang salah karena ia tidak melihat dampak jangka panjang dari memukul anak ini secara obyektif. Malah, ia mengulangi luka-luka lama.

Intinya, kita mesti dengan jeli melihat bagaimana orang lain bertindak, mengamati dampak dari perbuatan tersebut, dan mengambil sarinya untuk kepentingan kita sendiri, terutama dalam memecahkan masalah. Jika cara pemecahan masalah tersebut kelihatan overacting, seperti si ibu yang gemar memukul tadi, renungkan cara lain yang lebih kena tanpa menggunakan kekerasan.

Ciri-ciri pemecahan masalah yang salah pun perlu diidentifikasi. Apa saja ciri-cirinya? Antara lain adalah terlalu berlebihan, terlalu rumit, dan terlalu mementingkan pandangan sendiri tanpa melibatkan persepsi orang lain. Anda pasti bisa tambahkan lagi ciri-ciri lainnya apabila mampu melihat dengan obyektif dan saksama bagaimana orang-orang di sekeliling Anda memecahkan masalah.

Idealnya, suatu masalah dipecahkan dengan solusi yang berasal dari nurani, dari pemikiran yang obyektif serta jernih. Jangan memperpanjang dan memperumit masalah. Pilah-pilah masalah besar menjadi masalah-masalah liliput yang bisa diterjang dalam satu kali hempasan. Belajar dari kesalahan orang lain, jadikan itu menjadi bagian kita, namun pilih pemecahan yang terbaik dalam situasi kita sendiri.

Hidup itu simpel saja, kok! Ada banyak simulator ‘gratis’ yang bisa memperkenalkan kita kepada begitu masalah yang belum kita alami. Test drive your life dengan menggunakan kesalahan orang lain sebagai bahan pembelajaran. Dan, itulah rahasia sukses saya dalam menghadapi setiap masalah.[]

* Jennie S. Bev adalah entrepreneur, edukator, kontemplator, motivator dan pelaku seni digital (digital arts) berbasis di California Utara. Ia telah menerbitkan lebih dari 50 ebooks, sedang proses editing beberapa buku print, dan sedang proses produksi film pendek bersetting di Paris, Perancis. Ia bisa ditemui online di JennieSBev.com.

Read More......

Pemuda Cina Kuno

3000 tahun lalu, kaum terapung dari negeri Cina kuno tinggal di atas rumah-rumah di atas air. Mereka makan malam di udara terbuka.
Setiap keluarga tinggal di atas panggung di sebuah teluk. Ketika seorang anak lelaki sudah tumbuh dewasa, dia akan berdiri di tepi panggungnya dan memanggil. Gadis yang dicintainya akan memanggilnya kembali. Lalu pemuda itu akan membangun sebuah jembatan dari panggungnya menuju panggung si gadis.

Jika keluarga si pemuda menyukai si gadis, mereka akan membantu membangun jembatan itu. kedua rumah mereka akn digabungkan dan kedua keluarga akan menjadi satu.
Pada suatu hari, seorang pemuda mendengar bisikan dari cakrawala. Bisikan itu datang dari seorang gadis yang tinggal nun jauh di sana. Mereka memanggil dalam kurun waktu yang lama. Mereka memutuskan untuk menikah.


Keluarga si pemuda bilang tidak. Gadis itu berasal dari kalangan berbeda dan terlalu jauh. Tapi si pemuda bersikeras. Ia mulai membangun jembatan menuju cakrawala. Ia menggali dalam ke dasar laut untuk membangun fondasi yang kuat.
Keluarganya tidak membantu. Kata mereka, tradisi menikahi tetangga memberikan kekuatan pada komunitas mereka.
Mereka menamakan jembatan si pemuda ”Jembatan Bisikan”. Mereka menyuruhnya berhenti membangunnya. Namun si pemuda tidak peduli. Ia membangun jembatan itu selama delapan tahun.

Ketika jembatan selesai, ia bertemu dengan gadis yang berbisik dari cakrawala. Mereka pun menikah di atas jembatan istimewa itu.
Tahun berikutnya, badai besar datang menghantam. Badai itu memusnahkan rumah panggung kaum terapung. Namun jembatan bisikan itu tetap tegar!
Dan begitulah pula dengan kita. Benda yang membutuhkan waktu lama untuk membangunnya akan membutuhkan waktu lama pula untuk memusnahkannya.
Melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan itu memang sulit. Tapi setelah ia tuntas, maka tidak bisa lagi dibuyarkan. Untuk memastikan agar tradisi lama tetap bisa mempertahankan kekuatannya, maka ubahlah.

Kunci-kunci Sukses

Bagi anda yang ingin sukses dalam bisnis, maka cerita di atas harusnya memberi inspirasi dan semangat. Dalam cerita itu, terkandung kuknci-kunci sukses yang abadi.
Kunci-kunci itu tak terbantahkan. Ia telah berulang kali digunakan oleh semua orang sukses. Tak peduli orang-orang sukses tersebut tadinya miskin, cacat, didiskriminasi, bodoh, mau bunuh diri, atau bagaimana pun. Kunci-kunci itu telah menolong mereka. Kunci-kunci yang sama akan terus menolong siapa saja yang benar-benar ingin sukses. Apa saja kunci-kunci sukses dalam cerita itu? Saya menemukan tiga kunci utama:

1. Tujuan yang jelas

Tujuan sang pemuda jelas. Ia harus menghubungkan rumahnya dengan rumah gadis idamannya dengan sebuah jembatan. Sang pemuda tahu, jembatan itu panjang. Maka ia membangun jembatan yang sangat kuat. Karenanya, jembatan itu harus dibangnun dengan fondasi yang sangat dalam ke dasar laut. Perhitungan tepat. Jembatan itu tahan dihantam badai.
Tujuan jelas sangat penting dalam bisnis. Inilah awal semua cerita bisnis. Apakah tujuan anda berbisnis? Apakah uang dan kekayaan melimpah? Atau kedudukan terhormat? Popularitas? Atau pembuktian diri, atau apa?
Buatlah tujuan bisnis anda untuk: Memberi manfaat besar bagi sesama dengan menggunakan kekayaan berlimpah. Setelah menetapkan tujuan, berhati-hatilah pada Pencuri Mimpi, yaitu orang-orang yang berusaha mencuri tujuan anda. Mereka menghalangi anda, lemahkan semangat anda, mereka ungkapkan masalah dan resiko yang akan anda hadapi. Mereka juga meramal kegagalan anda.
Bila anda turuti mereka, pasti anda akan berhenti. Sang Pemuda Cina akan berhenti membangun jembatan ketika ea mendengar kata-kata keluarganya untuk berhenti dan hanya mencari istri dari tetangganya saja. Keluarga sang pemuda telah berusaha menjadi pencuri mimpi. Untung sang pemuda tak mendengarkannya.

2. Berani Mengubah Tradisi

Sang pemuda Cina hidup dalam suatu tradisi. Menikah dengan tetangga. Tapi ia tidak mau menerima tradisi itu. Ia bermaksud mengubahnya. Ia menginginkan sesuatu yang tidak biasa dilakukan orang-orang di tempat tinggalnya. Karena itu ia jadi orang luar biasa. Meski untuk itu ia harus membayar harganya. Tidak didukung keluarga dalam kerja besarnya. Dalam diri setiap manusia, ada hambatan mental. Untuk mengatasinya anda harus fokus pada tujuan. Cara praktis, anda teriakkan tujuan anda berulang kali. Cara kedua, ingatlah bila anda menyerah anda harus memulai berjuang dari awal. Cara ketiga, ingatlah bahwa semua hal buruk itu pasti berlalu. Cara keempat, berkumpullah dengan orang-orang yang sudah sukses mengatasi hambatan mental dalam dirinya. Cara kelima, bacalah kisah-kisah hidup orang-orang sukses. Cara keenam, lihat sekeliling anda. Cari orang gagal, perhatikan hidup orang yang menderita. Jika anda tidak mau seperti mereka, anda harus berbuat yang berbeda dengan mereka.

3. Kesabaran Tiada Akhir

Sang pemuda Cina sukses. Kesuksesan yang ia raih karena ia BERSABAR TIADA AKHIR.

Read More......

Cepat Sabar

Entah karena menganggap saya sebagai orang yang kurang sabar, kurang optimis, atau kurang gigih, seorang kawan mengirimkan surat elektronik berisi cerita inspiratif yang tak jelas asal usulnya. Nama penulisnya pun tak tercantum. Dan karena tidak bersifat rahasia, tidak membahayakan orang, dan tidak mengandung fitnah, maka saya kutip dibawah ini.

Dalam sebuah kisah Tiongkok dikisahkan, ada seorang pemuda yang hendak belajar kungfu. Datanglah dia pada sebuah perguruan kungfu. Dia menghadap gurunya dan berkata, "Guru, ajarilah saya kungfu!"


Sang guru menerima dia menjadi murid, namun keesokan harinya sang guru menugaskan dia menjadi seorang juru masak perguruan. Sambil menyerahkan sebuah cerobong kecil yang terbuat dari besi kasar beliau berkata, "Tugasmu menjadi juru masak dan setiap engkau meniup api dengan cerobong besi ini, tekan dan remas dengan kuat cerobong ini. Aku akan mengajarkan kungfu jika cerobong ini sudah halus dan bayanganku terlihat jelas."

Bertahun-tahun berlalu. Sang murid mulai tak sabar terus-terusan menjadi juru masak. Setiap tahun dia menanyakan kapan dia belajar kungfu, namun sang guru tetap mengatakan sampai cerobong besi itu halus.

Sampai akhirnya dia menunjukkan cerobong besi yang sudah halus itu pada gurunya. Sang guru tersenyum dan berkata, "Sekaranglah saatnya. Aku akan mengajarkan kepadamu ilmu yang penting, tetapi carikan dulu aku bambu yang paling keras di hutan."

Maka berangkatlah sang murid ke hutan. Ia meremas setiap bambu yang ditemuinya di hutan itu. Herannya tak satu pun dari bambu-bambu itu yang didapatkannya cukup keras. Sampai sore hari pun dia tak menemukan bambu yang keras di hutan itu. Akhirnya sang murid itu pulang dengan tangan hampa. Dengan kelelahan dia berkata pada gurunya, "Guru, maafkan saya. Saya sudah mencari kemana-mana, tetapi ternyata tidak ada bambu yang keras di hutan. Besok saya akan pergi ke hutan lain untuk mencarinya."

Sang guru tersenyum sambil berkata, "Muridku, saat ini engkau telah menguasai dua hal. Yang pertama kesabaran dan yang kedua adalah jurus tangan peremuk tulang. Siapa pun lawanmu, engkau bisa meremukkan tulangnya dalam sekejap. Jadi, saat ini engkau sudah menjadi salah satu pesilat tangguh dan sukar dikalahkan. Namun, bukan cuma itu. Engkau juga telah melatih kesabaranmu yang akan membantumu untuk bisa mempelajari ribuan jurus-jurus lainnya."

Pertanyaan dari kisah di atas, apakah benar dengan kesabaran kita bisa mencapai tujuan kita? Mari kita samakan persepsi kata sabar terlebih dahulu.

Kesabaran dalam terminologi masyarakat kita banyak disalahartikan. Masyarakat kita banyak mengartikan sabar sebagai diam, tidak membalas, menerima ataupun pasrah. Pengertian ini sangat berlainan dengan arti dalam bahasa Arab. Sabar dalam bahasa Arab diartikan tetap berusaha, tetap berjuang dan tetap berharap. Sabar adalah kombinasi yang harmonis antara rasa syukur, optimisme dan gigih (persistensi). Rasa syukur dapat mengkonversi kondisi terburuk menjadi mempunyai hikmah dan kebaikan. Optimisme adalah kemampuan kita menciptakan harapan. Dan persistensi adalah kesadaran diri untuk tetap bergerak, berusaha dan berjuang. Itulah makna sesungguhnya dari kata “sabar”.

Saya berterima kasih kepada kawan yang mengirimkan cerita di atas dengan cara menuliskan artikel ini untuk dinikmati banyak orang. Sebab cerita sederhana di atas memang mengandung sejumlah pelajaran yang menarik bagi siapa saja yang bersedia belajar. Di tengah masyarakat yang sedang dihalau oleh ajaran-ajaran cepat lulus, cepat kerja, cepat naik jabatan, cepat untung, cepat kaya, cepat langsing, dan serba cepat lainnya, kata “sabar” seolah-olah menjadi kadaluarsa. Orang yang terkesan sabar menjadi aneh dan kurang gaul alias ketinggalan jaman.

Memang, kita hidup pada jaman yang bergegas. Informasi, data, dan berita disebar dengan kecepatan yang tak terbayangkan oleh orangtua kita dulu. Pesan pendek alias SMS bertaburan di angkasa untuk kemudian menyusup ke dalam puluhan juta telepon seluler dalam hitungan detik (di Indonesia jumlah ponsel yang aktif tak kurang dari 60-an juta, dan tiap hari lebih dari 80 juta pesan pendek hilir mudik menembus batas-batas geografis yang dulu menjadi kendala). Belum lagi sebaran informasi, data, dan berita yang dikirim lewat jaringan surat-surat elektronik. Semua perangkat teknologi komunikasi dan informasi itu mendukung laju pertumbuhan budaya instan, serba cepat dan bergegas. Sehingga orang-orang yang masih bersedia untuk “sabar” nampak seperti kawan-kawan dinosaurus.

Masalahnya, dalam satu soal yang amat penting kita ternyata tetap harus bersabar. Dalam soal yang vital ini teknologi tak mampu berbuat banyak. Dan “soal” yang yang penting tersebut adalah soal membentuk watak alias karakter manusia. Berada di wilayah kebudayaan, watak dan karakter—entah itu yang personal maupun komunal—acapkali kita temukan bersitegang dengan teknologi. Sebagaimana setiap kemajuan tarik menarik dengan apa yang disebut tradisi, demikianlah teknologi yang tak sabaran itu bertikai dengan proses pembangunan karakter yang mempersyaratkan kesabaran sebagai salah satu komponen wajibnya.

Membentuk watak tak bisa secara instan. Membangun karakter tak mungkin dilakukan dalam sekejap mata. Sebab karakter itu merupakan kumpulan dari habitus, semacam insting perilaku yang sudah mendarah daging dan karenanya kenyal tak gampang patah. Apa yang perlahan dibentuk oleh guru kungfu dalam diri pemuda yang mau belajar kepadanya adalah mendahulukan yang utama (first thing first). Yang utama itu adalah watak, karakter, yaitu menjadi orang yang tekun bekerja, gigih berjuang, sabar menanti saatnya. Di atas watak yang demikian ini bisa dibangun kompetensi, keahlian, keterampilan sebagai pendekar peremuk tulang. Keduanya, baik watak maupun kompetensi yang menyertainya, berjalan selaras. Ketekunan bekerja dan kesabaran berproses menjadi jalan menuju lahirnya kompetensi sebagai pendekar peremuk tulang. Sungguh luar biasa!

Tiba-tiba saya menemukan nasihat kawan saya itu. Ia mungkin mengirimkan cerita tersebut agar saya mau belajar untuk menjadi orang yang ”cepat sabar”, dan bukan orang yang cepat marah. Apakah benar demikian?

* Andrias Harefa adalah motivator, trainer, dan penulis 28 buku laris. Ia dapat dihubungi di: aharefa@cbn.net.id.

Read More......

Cari Peluang Dalam Peluang

Mungkin Anda bertanya-tanya apa maksud judul di atas. Begini. Dalam setiap peluang, biasanya tersembunyi peluang lain yang juga bisa dimaksimalkan.

Bisnis jualan bakso misalnya. Usaha itu bagi banyak orang masih jadi peluang yang cukup menggiurkan. Menurut pengalaman saya ketika melakukan survey kecil, minimal satu mangkuk itu untungnya bisa mencapai di atas 50 persen. Cukup menggiurkan bukan? Nah, yang saya maksud peluang dalam peluang itu adalah bagaimana kita mencoba menggali peluang apa saja yang bisa digarap dari bisnis bakso, selain dari berjualan bakso itu sendiri.


Tahukah Anda, banyak pedagang bakso itu tidak membuat baksonya sendiri? Mereka kadang hanya menitipkan daging ke tukang pengolahan daging. Inilah yang saya sebut peluang dalam peluang ini. Mereka yang jeli ternyata bisa mendapat banyak keuntungan dari bisnis pengolahan daging menjadi bakso ini. Itu baru satu peluang. Saya pernah pula menjumpai perajin gerobak bakso. Menurut dia, order dalam seminggu setidaknya minimal 3 gerobak dengan harga satuannya Rp1,5 juta. Misalnya, satu gerobak ambil untung bersih Rp500 ribu, maka seminggu perajin gerobak itu bisa mendapat untung bersih minimal Rp1,5 juta atau Rp6juta sebulan. Lumayan bukan? Saya juga pernah menjumpai pengusaha distributor kelapa muda bagi para pedagang bakso. Menurut penuturannya, dalam sehari, ia bisa mengedrop satu truk kelapa dengan keuntungan bersih di atas Rp1 juta. Yah, hitung saja berarti dalam sebulan dia bisa mendapat untung berapa.

Begitulah. Ternyata banyak peluang yang saling berkaitan dari satu jenis usaha saja. Dan, saya yakin masih banyak peluang lain yang masih bisa digarap dari usaha bakso tersebut. Apa yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa sebenarnya, dengan kejelian kita, setiap aspek bisnis itu bisa jadi uang. Namun, kadang kita malah ”terjerumus” pada tren semata. Masih teringat ketika beberapa waktu lalu muncul tren usaha jagung manis dengan rasa. Muncul juga tren bisnis burger. Atau, beberapa waktu lampau muncul usaha Factory Outlet (FO) dan pakaian bekas bermerek yang segera menjamur di mana-mana. Semua seolah-olah berlomba-lomba untuk membuka usaha sejenis. Akhirnya, pasar malah jadi jenuh dan penjualan pun menurun.

Saya memang tidak melarang siapa saja untuk ikut tren tersebut. Selagi masih menguntungkan, mengapa tidak dicoba? Tapi, dalam artikel ini, saya ingin mencoba menawarkan sudut pandang lain dalam menyikapi tren yang berkembang dalam dunia wirausaha. Untuk bisnis jagung manis misalnya, mengapa tidak mencoba jadi supplier penyedia jagungnya langsung? Atau bisnis burger. Kalau mau, Anda bisa jadi penyedia daging pilihan untuk burger itu atau bisa juga mencoba menjual rotinya. Sedangkan kalau bisnis pakaian bekas bermerek, mengapa tidak mencoba Anda buka usaha cuci khusus pakaian bekas pakai.

Jika Anda mampu menggali sisi lain dari bisnis-bisnis yang sedang berkembang, bisa jadi Anda justru akan menemukan bisnis baru yang jauh lebih menggiurkan. Ada lagi satu contoh lain. Saat orang ramai-ramai bisnis handphone, ada salah seorang rekan saya yang kemudian malah mendirikan sekolah teknisi handphone. Hasilnya? Sekolahnya tak pernah sepi peminat. Kini sudah puluhan angkatan dengan ratusan siswa yang sudah lulus dari sekolah rekan saya ini.

Jadi, mari kembangkan kreativitas kita. Jangan terjebak tren belaka. Sebab, masih ada peluang di dalam peluang... Selamat berkreasi, temukan, dan segera take action!

Agoeng Widyatmoko adalah konsultan independen UKM. Untuk konsultasi dan permintaan pelatihan bisa menghubunginya di email agoeng.w@gmail.com atau 0812 895 0818

Read More......

Antara Engkau dan Tuhan

Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois.
Tetapi, bagaimana pun juga, terimalah mereka apa adanya.

Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin
akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk
dibalik perbuatan baik yang kau lakukan itu.
Tetapi, tetaplah berbuat baik selalu.


Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan
mempunyai musuh dan juga teman-teman iri hati
atau cemburu. Tetapi, teruskanlah kesuksesanmu itu.

Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain
mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap
jujur dan terbuka setiap saat.

Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya,
dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja.
Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun.

Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan
dalam hati, orang lain mungkin akan iri kepadamu.
Tetapi, tetaplah berbahagia.

Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok
akan dilupakan orang.
Tetapi, teruslah berbuat baik.

Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan itu
mungkin tidak pernah cukup.
Tetapi, tetap berikan yang terbaik.

Sadarilah bahwa semuanya itu adalah diantara engkau dan Tuhan.
Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain.

Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik
yang kau lakukan. Tetapi, percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada
orang-orang yang jujur, dan Dia dapat melihat ketulusan hatimu.

Mother Theresa

Read More......

Sepuluh Pengganjal Kebahagiaan Anda

Tulisan ini disarikan dari "Ten Roadblocks to Happiness and How to Overcome Them". This is not a book to read. This is a philosophy to be lived. For if the principles are not applied, they will be powerless to help bring about change.

LET GO OF DEMAND

Apa sih, yang sebenarnya membuat Anda marah dan kecewa? Apakah seseorang yang memotong antrian di depan Anda? Pengemudi iseng yang memprovokasi Anda di jalanan? Komputer yang hanya untuk di-boot saja terasa begitu lama? Handphone yang harus berganti setiap bulan dua kali karena terus dicuri? Orang yang mengejek dan mempermainkan Anda? Hujan sepanjang hari? Tagihan bejibun yang membuat Anda marah sampai ke ubun-ubun?


Bukan, bukan itu semua. Apa yang membuat Anda marah dan kecewa adalah "tuntutan yang kekanak-kanakan" dan "ekspektasi yang tidak realistis".

Saat Anda masih bayi, apa yang perlu Anda lakukan untuk mendapatkan sesuatu, hanyalah berteriak menangis sekencang-kencangnya. Dengan modal itu, Anda mendapatkan popok yang baru, susu ibu atau susu sapi, atau barang sepuluh lima belas kerokan pisang ambon untuk dinikmati.

Itulah ciri Anda saat masih helpless dulu. Waktu itu, perilaku demanding Anda masih bisa diterima. Tapi kini Anda telah dewasa. Anda bertanggung jawab pada hidup Anda, dan Anda tidak bisa lagi berharap bahwa dunia akan melayani Anda sebagaimana yang Anda mau. Jika Anda tetap melakukannya sekarang, itu namanya self-induced misery, alias penderitaan yang Anda buat sendiri. Berhentilah.

Apa yang perlu Anda lakukan sebenarnya cukup mudah. Anda hanya perlu mengganti demand dan ekspektasi, dengan preferensi.

"Aku sih nggak nuntut suamiku bangun lebih pagi, tapi aku lebih prefer kalo dia memang bisa melakukannya."

Anda akan lebih mengerti, dan Anda akan menjadi orang yang penuh pengertian.

Buanglah Pola Pikir yang Tidak Rasional

"Saya tidak akan pernah berbahagia kecuali dunia melayani Saya seperti yang Saya mau."

Itu tidak rasional. Apa yang bisa Anda kontrol hanyalah diri Anda sendiri.

Bersikaplah Mau Berbahagia

Disadari atau tidak, Anda mungkin tidak ingin berbahagia. Anda bisa melepaskan apapun dari diri Anda; uang, harta, waktu, energi, dan bahkan cinta, kecuali satu; penderitaan Anda.

Bahagia haruslah dimulai dari kemauan Anda sendiri. Anda mau bahagia atau tidak? Secara sadar Anda jelas mau berbahagia. Tapi cobalah selami kembali alam bawah sadar Anda. Bisa jadi, Anda sendiri yang tidak mau berbahagia.

Saat Anda merasa marah, itu penderitaan yang tidak membahagiakan. Lepaskanlah penderitaan Anda, bukan lampiaskan. Bertanyalah pada diri sendiri, "Bener nih, mau nuker happy sama kemarahan ini?" Perpanjanglah sumbu Anda supaya Anda bisa membuang penderitaan.

Berhentilah Mengasihani Diri Sendiri

Anda tidak akan menjadi pahlawan hanya dengan menderita. Adalah lebih heroik jika Anda tetap riang gembira di tengah penderitaan.

Berhentilah Membesar-besarkan

Tak perlu mem-blow-up permasalahan sampai keluar dari proporsinya. Itu akan melumpuhkan Anda. Belajarlah obyektif dan jadikanlah itu sebagai motivasi untuk mengambil tindakan.

LET GO OF REGRET

Anda pasti pernah menyesali sesuatu tentu saja. Wong kita ini manusia kok. Itu, sebenarnya versi lain dari kata-kata: "Kita tidak sempurna".

Tak perlu panik atau terobsesi oleh penyesalan. Jadikanlah ia kekuatan positif. Anggaplah itu sebagai wakeup call, sebuah tepukan yang membangunkan Anda dari tidur. Bukankah Anda macan?

Janganlah menunda tindakan dengan penyesalan. Bertindaklah segera dan Anda tidak akan menyesal lagi, sebab Anda telah melakukan sesuatu.

Tutuplah rapat-rapat lebarnya jarak antara Anda yang ideal dan Anda yang sekarang. Nikmatilah Anda yang sekarang dan lakukan apa yang terbaik menurut Anda. Sebab jika Anda punya waktu untuk menyesal, maka Anda pasti punya waktu untuk melakukan sesuatu tentang itu.

LET GO OF GREED

"Saya telah punya semua yang saya mau, dan Saya telah menjadi apa yang Saya ingin, kecuali..."

Ya. Itulah Anda barangkali. Tidak SEMUA yang Anda mau akan Anda dapatkan.

Pertama, resources Anda terbatas. Kedua, nafsu Anda adalah sesuatu yang tidak akan pernah terpuaskan. Ia seperti air laut. Makin Anda minum, makin kering rasanya tenggorokan. Desire Anda tidak salah, melewati batasnyalah yang salah.

Sadarilah bahwa penyebab kerakusan adalah kesenangan. Bisa memiliki memang menyenangkan. Tapi kesenangan itu sendiri bisa menjadi candu. Kita sering lupa, bahwa kesenangan tidak selalu sama dengan kebahagiaan. Saat Anda menemukan bahwa kesenangan ternyata tidak sama dengan kebahagiaan, muncullah ketakutan dan kekhawatiran. Takut dan khawatir itu, akan memicu desire Anda lebih besar lagi.

Maka, Anda akan menemukan lingkaran yang abadi di sini: Karena desire Anda tidak pernah punya ujung, maka fear Anda juga tak akan pernah punya muara. Berhentilah menjadi manusia yang terpenjara!

Iya. Tapi bagaimana?

Fokus dan terapkanlah prioritas. Mulailah dahulu dengan BEING. Soal HAVING, ya belakangan sajalah. Dan untuk BEING, Anda harus DOING. Just DO your best.

LET GO OF WORRY

Anda tahu kenapa lagu "Don't Worry - Be Happy" begitu ngetop? Karena itulah panggilan jiwa Anda.

Pahamilah perbedaan antara "menderita" dan "khawatir". Menderita adalah pesan tentang masalah, sementara khawatir adalah pesan tentang adanya peluang untuk tumbuh dan berkembang. Jadi waspadalah. Apakah Anda memang menderita, atau sebenarnya Anda hanya khawatir saja?

Jika Anda hanya khawatir, ketahuilah bahwa sumbernya adalah ketakutan. Anda takut terhadap sesuatu yang masih gelap, blank, dan tidak tahu apa-apa tentangnya. Atau, Anda takut menghadapi tantangan.

Ketahuilah bahwa setiap detik dan setiap saat, Anda adalah benih. Benih yang mestinya bisa tumbuh menjadi besar dan hebat. Worry can't change the past, but it can ruin the present. Berpengetahuanlah, dan bertindaklah menyambut tantangan. Seperti seekor macan.

LET GO OF DEFENSIVENESS

Salah itu normal, termasuk jika itu melukai orang lain. Bukan nyuruh nih, tapi kita semua memang pernah berbuat salah. Anda tahu kan kenapa pensil, whiteboard, dan papan tulis itu ada penghapusnya? Karena Anda adalah manusia.

Jika Anda salah apa yang Anda katakan?

"Aduhhh.. maaf nih. Maaf, namanya juga manusia."

Lantas, apa yang Anda katakan jika orang lain yang salah?

"Dasar Bodoh!"
"Stupid!"
"Bloon."

Saat Anda salah, Anda adalah manusia. Saat orang lain salah, mereka bukan manusia. Ini tidak rasional. Maka, maafkankanlah mereka.

LET GO OF GUILT

Guilt adalah rasa tidak nyaman saat Anda mengalami perlawanan menentang kesadaran Anda sendiri. Guilt itu sendiri tidak terlalu berbahaya. Apa yang lebih berbahaya adalah ketiadaan solusinya.

Feeling guilty itu bagus. Itu sinyal lampu merah yang memperingatkan Anda agar stay on course. Maka saat Anda feeling guilty, dengarkanlah isi hati Anda. Manakah yang Anda pilih, short-term pleasure atau long-term gain?

Rasa bersalah yang tidak menemukan solusi, akan membuat Anda mengalami ini:

1. Pikiran yang tidak damai.
2. Rasa tidak percaya dan takut pada orang lain, atau bahkan kepada Allah SWT.
3. Sesuai angka ini, Anda akan menderita tiga kali:

Pertama, saat Anda bertindak tidak bertanggung jawab. Kedua, saat Anda melihat orang lain bertindak dengan penuh tanggung jawab. Ketiga, saat Anda harus menanggung konsekuensinya.

Berikut inilah yang perlu Anda lakukan saat Anda merasa tidak bertanggung jawab.

Ingatlah bahwa responsibility, adalah singkatan dari "response-ability". Kemampuan untuk merespon dengan tepat. Bagaimana caranya agar bisa merespon dengan tepat? Anda bisa menggunakan rumus AAA.

1. Admit. Akui bahwa pilihan tindakan Anda adalah salah.
2. Analyze. Analisis perilaku Anda. Apa alasan Anda memilih yang salah? Apa konsekuensinya? Bagaimana tidak mengulanginya? Bagaimana meluruskan pilihan yang sekarang?
3. Atonement, alias integritas. Integritas adalah menyatunya hati, jiwa, sasaran, tindakan, dan keimanan. Saat semuanya menyatu, Anda memasuki tahap atonement, alias at-one-ment.

Dengan AAA, Anda bisa memperbaiki keadaan.


LET GO OF SPITE

Anda, pasti pernah diprovokasi. Oleh pengemudi lain di jalanan, atau oleh orang lain yang mengejek dan melecehkan. Anda pasti pernah merasa diserang. Di kantor, di rumah, di lapangan sepak bola, di kantin, di mana saja.

Tidak ada perlunya Anda melayani yang begituan. Sebab, dunia Anda bisa rusak seharian. Mengalah sajalah, kecuali jika undang-undang dasar Anda yang terlanggar atau terinjak-injak.

Kita cenderung lupa bahwa kita lebih sering menggunakan hati untuk merasakan, ketimbang otak untuk berpikir. Ini sepertinya benar dan wajar. Tapi berhati-hatilah karena itu tidak logis dan tak rasional. Itu emosional.

Jika Anda merasa perlu melayani serangan, provokasi, dan ejekan orang lain, maka itu tentu ada sebabnya.

Pertama, rasa keadilan Anda yang terusik. Saat Anda merasa diserang, Anda merasa perlu membalasnya. Tapi, jika serangan itu dilakukan karena tidak sengaja, tidak dimaksudkan untuk menyerang, kesalahpahaman, atau hanya karena mereka bodoh saja, keadilan macam apa sih yang Anda inginkan?

Kedua, logika Anda yang terdistorsi. Anda berasumsi bahwa jika mereka mengalami sakit seperti yang Anda rasakan, maka mereka akan meminta maaf.

Tidak. Jikapun mereka akhirnya meminta maaf, itu bukan karena sakit yang Anda buat dengan serangan balasan, tapi karena pikiran dan hati mereka yang sudah lurus kembali. Saling menyakiti tidak akan menyelesaikan masalah. Ia bahkan memperuncingnya.

Ketiga, secara sadar atau tidak Anda mencoba menghindari tanggung jawab untuk membahagiakan diri sendiri. Sebab jika Anda memang mau bertanggungjawab untuk kebahagiaan Anda sendiri, Anda pasti tidak akan melarikan diri.

Jika begitu, bagaimana caranya memunculkan rasa tanggung jawab untuk kebahagiaan diri sendiri? Awareness-lah jawabannya.

Ketahuilah bahwa rasa sakit yang Anda derita adalah bukan karena serangan mereka, tapi karena reaksi Anda atas perilaku mereka. Mengapa mereka begitu jahat dan kejam kepada Anda? Karena mereka sedang sakit, dan mereka merasa terancam oleh Anda.

Responlah sikap buruk orang lain dengan kebaikan, maka Anda akan mulia dan terhormat. Cobalah selalu untuk bersikap rendah hati tapi bukan rendah diri.

Ketahuilah bahwa sabar itu tidak pasif. Ia tidak datang dengan sendirinya, dan ujug-ujug Anda menjadi sabar. Sabar itu kata kerja dan bukan kata sifat. Maka sabar, adalah disabar-sabarin.

LET GO OF ENVY

Anda juga mungkin pernah merasa kalah. Waspadalah. Salah-salah, kekalahan bisa membuat Anda menjadi orang yang envious, yaitu orang yang penuh dengki dan tidak bisa menerima kekalahan. Tidak senang jika orang lain senang, dan senang jika orang lain tidak senang.

Sikap envious, bisa berkembang dalam tiga tahap.

Pertama, saat Anda merasakan kekalahan. Di tingkat ini, perasaan kalah itu sebenarnya wajar. Apalagi jika Anda bisa memberi selamat kepada pemenang, dan kemudian menjadikan kekalahan sebagai pelajaran. Jika tidak bisa, maka di sinilah bibit envious Anda akan mulai tersemai.

Kedua, saat Anda mulai mengembangkan perilaku mensabotase orang lain. Mulainya dari yang kecil-kecil saja, seperti menciptakan isu dan gosip buruk, atau berharap dan "berdoa" untuk kemalangan dan kecelakaan bagi orang lain. Anda mungkin mengira ini tidak berbahaya.

Salah. Itu sangat berbahaya. Mengapa? Karena harapan buruk seperti itu adalah karatnya jiwa, persis seperti karatnya besi. Merusak, melubangi, merontokkan, dan menggerogoti semua amal baik. Lebih dari itu, dari mana sih datangnya semua tindak kejahatan? Ya dari doa, harapan, fitnah, dan pikiran negatif yang melenceng seperti itu!

Ketiga, seperti sudah disebut barusan, semuanya akan termanifestasi menjadi tindak kejahatan. Anda akan menjadi orang yang dengki, dengan sikap dan tindakan yang keji. Anda telah menghancurkan diri sendiri.

Jika Anda mulai mengalami gejala penyakit ini, resepnya sederhana. Bertemanlah dengan mereka yang menang. Kemudian, ubahlah cara berpikir Anda. Gantilah "Saya pengen kayak gitu," menjadi "Bagaimana supaya Saya bisa seperti itu."

LET GO OF ANGER

ANGER itu cuma satu huruf lebih pendek dari DANGER. Dan "D", adalah nilai minusnya.

Alasan yang bagus bagi Anda supaya tidak marah, adalah memahami bahwa kemarahan akan menyebarluaskan kelemahan. Saat Anda marah, Anda sebenarnya berkata, "Saya takut! Saya Terluka! Saya frustrasi!" Itu, adalah kata lain dari "Saya lemah."

Sadarilah bahwa orang, barang, atau situasi, akan cenderung membuat Anda selalu marah. Udah dari sononya begitu. Anda tidak bisa dengan mudah mengontrol sesuatu di luar diri Anda. Dan jika Anda marah, kemarahan Anda tidak akan membuat dunia berjalan sesuai kemauan Anda. Andalah yang harus menyesuaikan diri dengannya.

Sadarilah bahwa jika Anda menghadapi orang yang marah, they're not being mean; they're just being people. Like you. Dan seperti biasa, marah itu muncul disebabkan oleh fear. Rasa takut akan kehilangan kontrol.

Keinginan untuk mengontrol adalah benar. Tapi, ingin mengontrol orang lain itu salah. Yang benar, ingin memberi contoh teladan kepada orang lain. Mengontrol dengan kekuasaan? Salah juga. Apa yang perlu dikontrol hanyalah diri sendiri. Sekali lagi, maafkanlah mereka yang marah. Tidak ada yang salah saat seorang manusia bersikap dan bertindak sebagai manusia.

Anda sendiri, kurangilah marah Anda sebab Anda sendirilah yang akan merugi. Saat Anda marah, apa yang telah keluar sebenarnya tidak perlu keluar dan apa yang terlanjur sebenarnya tidak perlu terlanjur.

LET GO OF FEAR

Saat Anda menghadapi ketakutan, Anda berada di tengah-tengah persimpangan jalan. Satu cabang menuju kepada kepengecutan, dan satu lagi menuju kepada keberanian. Yang satu menuju harapan dan impian, yang satu lagi menuju kekecewaan dan kesedihan.

Anda tidak bisa mundur atau tetap diam, melainkan tetap maju dan memilih salah satu cabang. Dengan diam atau mundur, Anda tidak akan tumbuh dan berubah. Malah, Anda menuju ke kepunahan dan kematian.

Manage-lah fear Anda, sebab fear adalah False Evidence Appearing Real. Asli tapi sebenarnya palsu.

Jadi, tak usahlah Anda bersedih lagi. Bersenang-senang sajalah. Sibuklah. Lakukan yang terbaik. Tak perlu takut dan tak usah khawatir. Lakukanlah segalanya dengan semangat dan keberanian. Itu lebih baik buat Anda.

Bukannya tadi sudah Saya bilang, kalo Anda itu macan?

Saya Ingin Anda Sukses,
Saya Harus Membuat Anda Sukses.

Ikhwan Sopa
Trainer E.D.A.N.
021-70096855
ikhwan dot sopa at gmail dot com

Read More......

Keyakinan dan Ketekunan

Sahabat, dalam hidup seringkali kita menerima keadaan dan situasi yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Apakah itu dalam bidang pekerjaan, dalam bidang usaha maupun dalam kehidupan keluarga. Ketika kita dihadapkan pada situasi krisis ekonomi yang berkepanjangan misalnya, apakah Anda sedih dan putus asa ? Ketika kondisi negeri kita seringkali dirundung berbagai masalah, musibah dan bencana bertubi-tubi, bagaimanakah kita harus menyikapinya ?. Apakah anda merasa pasrah menerima keadaan tanpa melakukan usaha ? Ataukah kebalikannya anda bertekad untuk berjuang keras untuk keluar dari lubang masalah dan maju meraih kesuksesan ?.


Sahabat, pagi hari ini saya ingin berbagi sebuah kisah yang sungguh luarbiasa dan dapat menjadi inspirasi bagi kita semua mengenai kekuatan dari sebuah keyakinan dan ketekunan dalam berusaha.
Adalah Anthony Faison (36) dan Charles Sheperd (40), keduanya merupakan pria Amerika yang tahun 1987 secara keliru dinyatakan bersalah membunuh seorang sopir taksi. Kedua pria itu divonis hanya atas dasar kesaksian seorang saksi, dan saksi itu pun mengaku sedang mabuk pada malam terjadinya pembunuhan itu. Namun pengadilan telah memutuskan kedua pria itu dengan dijatuhi hukuman seumur hidup.

Coba bayangkan, bagaimana kalau anda jadi orang seperti ini ? Apa yang akan anda lakukan bila anda tidak bersalah, tapi akibat suatu kekeliruan anda divonis hukuman seumur hidup di penjara ?.

Tidak bersalah !, namun dipenjara bertahun-tahun tanpa tahu kapan akan bebas. Dan apakah bisa bebas di masa depan?

Pasrah dengan keadaan ? Tidak memiliki keyakinan untuk terus berjuang ?.

Anthony Faison dan Charles Sheperd tidak mau menyerah begitu saja. Dia memilii “keyakinan” bahwa dirinya akan bisa bebas dari penjara karena merasa tidak bersalah. Keyakinannya ini mendorong dirinya untuk memiliki semangat melakukan perjuangan. Dengan “keyakinan” dan “ketekunannya” selama 14 tahun, orang yang tidak bersalah ini terus menerus berusaha mengirimkan surat kepada para detektif, para pengacara dan para tokoh politik untuk mengatakan bahwa dirinya tak bersalah.

Berapakah surat yang telah ditulisnya ? Konon mencapai 62.000 surat !. Dan setelah 14 tahun, dari salah satu surat itu, menggerakkan hati seorang detektif yang akhirnya menemukan fakta sebenarnya dari kisah pembunuhan yang salah tangkap itu. Bayangkan !. Selama 14 tahun dan dari 62.000 surat cuma dapat 1 tanggapan ?.

Dan akhirnya keyakinan dan ketekunannya melakukan perjuangan LUARBIASA ini membuahkan hasil juga. Dia divonis bebas dan mendapatkan ganti rugi rugi sebesar US$ 3,3 juta (sekitar Rp 29 miliar lebih) dari Negara.

Sahabat semuanya, cobalah menghitung, kalau selama 14 tahun dia mengirim 62.000 surat. Maka tiap hari minimal dia harus menulis atau mengirimkan sekitar 12 atau 13 surat tanpa henti. Terus menerus selama 14 tahun. Artinya setiap 2 jam dia menulis atau mengirimkan satu surat selama dipenjara. Dan pikirkan, bahwa dia telah ditolak dan gagal sebanyak 61.999 kali, namun tidak pernah putus asa. Hanya 1 kali akhirnya diterima.

Sahabat, hukum alam itu sesungguhnya sederhana saja. Barang siapa mencelupkan jarinya ke air mendidih, mendapatkan jarinya lepuh. Pasukan yang berani berperang dengan gigih, bertempur dengan gagah berani - tanpa takut akan kegagalan- akan meraih kemenangan. Orang yang memiliki keyakinan dan ketekukan bekerja, lebih giat berusaha, tanpa pernah mudah menyerah dalam berusaha - akan memperoleh keberhasilan dan kesuksesan. Itullah “sunnatullah” atau hukum sebab akibat.

Sayangnya, banyak orang yang mengingkari hukum “sunnatullah” ini. Hanya karena sebagian orang mempercayai bahwa “langit itu adil” dan kemudian merasa percaya pada sang langit saja, berdoa kepada sang langit saja, mengharap kepada sang langit saja, tanpa pernah mau melakukan usaha nyata, kemudian berharap emas jatuh ke pangkuannya begitu saja. Padahal tiada imbalan yang dapat diraih tanpa usaha. Tiada buah yang dapat dipetik tanpa menaburkan benih-benihd an setia merawatnya. Sesungguhnya keyakinan dan ketekunan tak akan pernah jauh dari imbalan itu sendiri.

Sahabat, sebuah KEYAKINAN dapat memberi makna pada setiap usaha yang kita lakukan. Maka imbalan pun pasti akan memenuhi jiwa kita.

KEYAKINAN sesungguhnya akan memperkaya batin kita. Sedangkan KETEKUNAN akan mendekatkan pada keberhasilan usaha. Tentu saja keduanya akan menjadi lebih sempurna kalau disertai dengan DOA kepada Allah Sang Pemilik Kehidupan.
Sahabat, mari kita pelihara keyakinan dan ketekunan dalam diri kita masing-masing. Kita pertahankan keyakinan dan ketekunan dari dalam hati di setiap langkah kehidupan ini. Karena dengan Keyakinan kita - maka akan memperkaya tangan dan batin kita. Keyakinan dan Ketekunan dalam hidup, dalam karier dalam bisnis akan sangat dahsyat pengaruhnya bagi kesuksesan seseorang jauh melampaui modal harta benda, kedudukan, pangkat, atau ilmu sekalipun.

Salam Motivasi Nurani !

Eko Jalu Santoso adalah seorang professional di dunia usaha, Penulis Buku The Art of Life Revolution, diterbitkan Elex Media Komputindo, Founder Motivasi Nurani Indonesia.

Read More......

Anda bukan orang gagal

Orang yang gagal berjalan dengan ketekunan yang sangat kecil

Pada suatu waktu ada seorang muda yang terlibat dalam usaha pencarian minyak dan karena ia kehabisan uang, ia menjual sahamnya kepada partner bisnisnya yang tetap meneruskan usaha mereka. Setelah waktu dan usaha yang banyak, mereka mendapatkan keberuntungan dan mengenai sebuah sumur semburan minyak.

Perusahaan itu belakangan menjadi Cities Service, dan kita mengenalnya sekarang sebagai CITGO. Orang muda yang menarik diri, kemudian menjalankan bisnis garmen dan mengalami pengalaman yang lebih buruk lagi dari bisnis perminyakan. Ia menjadi bangkrut. Sekalipun demikian, ia tidak putus asa. Belakangan ia memasuki dunia politik.

Para ahli sejarah menceritakan banyak hal yang baik mengenai Harry S.Truman, orang yang dua kali mengalami kegagalan tetapi selalu bangkit kembali sampai ia menjadi Presiden Amerika Serikat.

Anda bukanlah seseorang yang gagal sampai Anda berhenti mencoba.

Read More......

Dimanakah Nyali Anda?

Seorang teman baru saja mengalami kebangkrutan. Beberapa teman dan kolega, berbisik-bisik bergosip ria, membahas kebangkrutan itu. Hampir semuanya menyalahkan tentang sikap teman kami yang terlalu berani mengambil resiko besar. Sehingga akhirnya jatuh terperoksok dalam kebangkrutan. Serba salah memang. Terkadang didepan mata datang sebuah peluang. Tetapi kita takut mengambilnya. Sehingga peluang itu raib begitu saja. Dan kita malah diejek tidak punya nyali atau keberanian. Sebaliknya, peluang datang, kita sambar, akhirnya bangkrut, lagi-lagi yang disalahkan nyali dan keberanian kita. Disini kita dianggap ceroboh terlalu bernyali. Serba salah bukan ? Andaikan saja nyali atau keberanian, dijual dalam bentuk permen, saya pasti akan selalu sedia didalam kantong, begitu komentar seorang teman saya.


Sayangnya nyali atau keberanian tidak dijual sepraktis dalam kemasan permen. Keberanian atau nyali lebih mirip dengan stamina. Bayangkan anda sedang dalam sebuah lomba marathon. Anda sudah berlari sekian lama, otot anda sudah nyeri dan pegal-pegal. Nafas anda pendek-pendek. Tubuh sudah mandi keringat. Dan didepan anda 100 meter lagi terlihat pita garis finish. Pada detik itulah, anda yang memutuskan. Menyerah dan menjatuhkan diri anda kebumi. Atau sekali lagi menarik nafas dalam-dalam, mengerahkan semua otot dan tenaga anda untuk berlari lagi dan merangkul pita finish. Itulah nyali atau keberanian. Mirip extra stamina. Tidak semua orang memilikinya. Konon hanya para juara yang terlatih memiliki dan memahaminya.

Kabar baiknya nyali atau keberanian bisa dilatih. Tetapi syarat utama harus dipenuhi terlebih dahulu. Yaitu anda harus punya mental juara. Juara bisnis, umumnya punya naluri untuk masuk ke bisnis yang mereka yakin akan menang. Jadi misalnya ada peluang bisnis dengan resiko kecil, tetapi kita tidak memahami bisnis itu, jangan gegabah untuk mencoba masuk kebisnis itu. Pengalaman saya, lebih dari 70% bisnis yang gagal, kebanyakan disebabkan oleh gagal manajemen. Artinya peluangnya bagus, tetapi gagal karena manajemennya salah urus. Kadang latah dan ikut-ikutan menjadi penyebab gagal manajemen dalam kasus ini. Misalnya saja, sekarang sedang tren membuat toko donat, maka kita rame-rame ikut bikin toko donat. Karena kurang pemahaman, biasanya kita terjebak berbuat kesalahan yang terlihat sepele pada awalnya, lalu menumpuk menjadi kesalahan berlapis yang cenderung menjadi awal bencana.

Juara bisnis kadang, masuk kedalam sebuah bisnis yang beresiko tinggi. Tapi ia punya pengalaman dan pemahaman yang mendalaman. Dalam kasus ini, ia cuma mengambil posisi ”underdog” saja. Ibarat lomba mobil Formula One, ia tidak mendapat start didepan. Biasanya ia punya perhitungan untuk menyalib didalam pertarungan didepan. Itu sebabnya ia terlihat memiliki nyali atau keberanian. Nyali atau keberanian seringkali datang bukan karena nafsu yang sifatnya tiba-tiba melainkan karena perhitungan khusus, yang didapat para juara bisnis dari bertahun-tahun pengalaman.

Kalau anda ingin belajar punya nyali atau keberanian dalam bisnis, saya punya sejumlah tips yang saya kumpulkan dari para juara bisnis.
Pertama-tama nyali atau keberanian, datang dari pengalaman dan kefasihan. Kalau anda sudah berpengalaman dan fasih naik sepeda, maka anda berani naik sepeda dengan gaya lepas tangan. Bayangkan dirumah anda ada tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai 2. Tangganya sedikit curam. Tetapi karena anda sudah sangat sering menggunakan-nya maka anda bisa saja naik dan turun tangga dengan setengah beralari dan cepat sekali. Jadi nyali dan keberanian, sumbernya adalah pengalaman. Yang anda harus lakukan adalah memberdayakan pengalaman anda. Ini langkah awalnya.

Kedua, juara bisnis selalu mulai dengan sesuatu yang kecil dan melakukannya perlahan-lahan. Istilah keren-nya ”starts small and slow”. Juara bisnis hampir semuanya memiliki rute sukses dengan pola ini, kecil dan perlahan-lahan. Pernah saya berdialog dengan seorang pengusaha tentang teori ini. Beliau menuturkan, bahwa dalam bisnis, hitungan yang paling penting adalah ”exit strategy”. Kalau bioskop atau gedung perkantoran, harus ada ”emergency exit”, maka dalam bisnis situasinya juga mirip. Dalam bisnis, ada pameo yang mengatakan ”jangan mudah menyerah !”. Seth Godin, pengarang buku ”The Dip” mengatakan hal itu adalah nasehat yang buruk. Justru menurut Seth Godin, juara bisnis, umumnya sangat paham dan ahli untuk menyerah. Bukan sembarang menyerah, tetapi menyerah pada waktu yang pas. Nah, kalau anda start bisnis dengan modal dan skala kecil, andaikata macet, maka dengan mudah anda bisa ”exit” tanpa harus menderita kerugian besar. Lagi pula sesuatu yang kecil lebih mudah dikendalikan daripada sesuatu yang besar dan kompleks.

Nasehat yang terakhir, rada unik. Menurut seorang juara bisnis, setiap bisnis pasti punya resiko. Ada yang besar dan ada yang kecil. Yang besar resikonya membuat kita tidak nyaman dan mengagalkan nyali atau keberanian kita. Tetapi kalau kita mundur, sebenarnya itu resiko juga. Bisa saja peluang itu akhirnya diambil oleh kompetitor kita, yang belakang hari bukan mustahil akan merepotkan kita. Kadang ini perhitungan yang sering diambil oleh para juara bisnis. Seorang pengusaha bercerita bahwa ia sering dikritik serakah dan tanpa perhitungan, karena banyak mengambil bisnis-bisnis resiko tinggi. Ia bercerita bahwa motif sesungguhnya adalah justru ia ingin memagari kompetitornya. Orang lain yang tidak tahu ceritanya, selalu menganggap ia bernyali besar. Padahal ia justru penuh perhitungan.

Kurnia Rafi

Seorang penulis buku yang kontroversial dengan bukunya "Anti-Marketing".

Read More......
benni surbakti

Add to Google Reader or Homepage

Add to Plusmo